31.3.18

Ngelambe di Balik Pintu Tuh Nggak Gentle

Disclaimer: Ada beberapa topik ini yang mengandung rant. 
Kalo ngerasa offended, cukup baca aja dan no comment
Thank you.

Rasa curiga mulai tumbuh dalam diriku sejak SMA--masa dimana aku mulai mendapatkan masalah yang aku sendiri pun nggak tau solusi terbaiknya karena para terdakwa itu nggak mau berdamai denganku (padahal aku udah minta maaf sama mereka, tapi ya kurang terhormat aja si responnya itu, gitu). Alasan yang mendominasi tumbuhnya rasa itu adalah tak lain karena beberapa kejadian yang aku alami waktu SD yang bikin aku punya trauma besar seumur hidupku. Aku nggak "muna" kok--sampai detik ini pun--aku masih punya rasa itu.

Setiap saat, aku pasti nggak absen dari yang namanya "ngupingin" orang yang lagi "ngelambe*" Kenapa aku ngelakuin hal ini? Salah satunya sih buat bahan evaluasi aku--gimana baik/buruknya aku di mata mereka. Tapi, cara ini bisa aku bilang sangat melelahkan. Aku tahu, memang ada cara yang lebih efektif lagi buat mengevaluasi diriku--ngomong langsung ke orangnya. Tapi, aku selalu ragu karena orang-orang macam mereka tuh pasti langsung nolak bilang. Aku bisa tebak kalo mereka pasti malu banget gara-gara omongan mereka ketauan sama aku--si korbannya. Aku bilang kayak gini nggak semata-mata ngarang, ya. Ini pure aku yang alami sendiri (bukan dalam rangka "sombong-menyombong", loh).

Aku aja sangat menyayangkan orang macam mereka. Kenapa, gitu, nggak ada yang berani ngomong di hadapan korbannya face-to-face? Kasarnya, mereka itu para pengecut dan zaman sekarang ini adalah zaman buat para pengecut itu seakan aku sendiri ngerasa zaman ini nggak cocok buat orang kayak aku.

Seperti yang udah aku bold di atas tuh, semakin rasa curiga tumbuh tuh, semakin tumbuh juga rasa lelah dalam diri. Waktu aku SMA, aku hobi banget tuh curhat ke psikiater lah, psikolog lah, wali kelas lah, guru bk lah buat, at least, ngurangin rasa curiga aku. Rata-rata, hampir banyak yang bilang,

"Nggak usah dipikirin lah mereka mau ngomong apa juga,"

"Kan belom tentu juga mereka ngomongin kamu..." Seketika aku ngerasa pesimis.

I try harder  setelah dikasih saran itu. But, nothing works to me at the moment. It works setelah aku keluar dari zona SMA-ku yang sangat menyeramkan itu. Dari situ, aku mulai berusaha acuh tak acuh sama orang macam mereka lagi. Walau seems impossible karena aku masih tetap ngerasa pesimis dengan saran itu, at least, ada secelah perubahan baik yang berhasil aku buktikan.

Sama halnya dengan di dunia maya. Setiap postingan yang aku keluarkan, hampir nggak ada orang yang aku harapkan buat kasih komen positif muncul. Kebanyakan dari mereka pasti cuman ngasih likes tanpa komen. Seriously, aku tetep mengapresiasi usaha mereka itu. Tapi, tetep aja, sebagai manusia, aku nggak tahan sama yg namanya kekosongan dalam kolom komentar di setiap postinganku. Akhirnya, hal ini berimbas pada trauma. Aku nggak pengen bikin postingan lagi sebenernya. Tapi, aku tetep aja butuh itu buat ngeluarin amarahku yang terperangkap.

Jadi, aku belajar kalau kita harus merawat mental kita sama seperti kita merawat fisik kita. Yang selama ini kita khawatirin malah fisik. Padahal, yang harus paling dikhawatirin adalah mental kita sendiri. Bisa jadi, penyakit yang biasa kita tahu / lihat itu disebabkan karena mental kita yang udah sakit duluan dan ngajak fisik kita buat sakit bareng. Nggak mau kan keliatan sakit? Mulai dari sekarang, yuk sayangi mental kita!





*ngelambe: ngegosip -> aku pake istilah "ngelambe" ini sebenernya terinspirasi dari akun l***et***h (tenang, belom masuk KBBI kok). Jadi, jangan bingung lagi, ya...

No comments:

Post a Comment