Di zaman milenial ini, hari ke hari, para pengguna medsos semakin meradang dan tak jarang melibatkan hal tersebut dalam kegiatan sehari-hari mereka. Dari bangun hingga tidur mereka selalu menggunakannya tanpa henti. Tapi, apakah kalian tahu? Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa bersosmed membawa banyak kerugian di segala aspek. Beberapa di antaranya, yaitu, dari segi bidang psikologis, seorang pengguna akan anti-sosial, kemudian dari segi medis, medsos akan meningkatkan hormon dopamin (hormon yang membuat kita merasa senang alias addict terhadap apa yang kita suka) secara berlebihan yang mengakibatkan lupa dengan hal lain yang seharusnya kita lakukan, dan sebagainya.
Sehubungan dengan hal yang udah aku singgung tadi, jujur, ini adalah keputusan yang sangat berat buat aku yang sebenarnya adalah salah satu pecandu medsos. Tapi, aku harus menutup beberapa akun medsos yang aku sayangi. Tentunya, ada alasan yang kuat tentang ini. Jangan kalian, berat, biar aku saja #korban_aa_dilan_wkwk
Aku ceritain dulu ya kronologisnya gimana.
Awalnya, suatu hari, aku stalking di salah satu aplikasi dimana kalian bisa nulis tanpa orang tahu kalian itu siapa a.k.a kalian itu jadi anon, baik postingan maupun komentar. Ada salah satu postingan yang dia nanya tuh (kurang lebih pertanyaannya kayak gini),
"Menurut kalian, apa sih dampaknya kalo nggak punya akun medsos? Kalo ada yang punya pengalamannya, boleh dong dikomen di sini,"
Waktu aku lihat postingan itu, langsung aku samber tuh ke kolom komennya. Terus, aku ceritain lah masa-masa aku pertama kali masuk dunia asrama SMA-ku, dimana aku cuman boleh bawa ponsel nokia jadul tuh, yang pencetannya ada 12 biji itu dan beberapa jenis ponsel ada game ular makan makanannya itu. Pasti kalian pernah punya juga, kan? Terus, ditambah lagi, aku cuman boleh pake itu dari habis pulang sekolah sampe setengah jam menuju adzan Maghrib (buat Senin-Jumat aja). Bayangin dong, kurang tersiksa apa aku? Yang saat itu temen-temen lamaku (bukan temen-temen SMA-ku,ya...) bisa bebas bawa ponsel pintar mereka kapanpun mereka mau dan mereka tahu juga apa pun yang lagi trending di masanya, sedangkan aku harus bisa bertahan hidup dalam ke-gaptek-an. Saat itu aku bener-bener nangis dan homesick parah. Rasa rindu pun parah. Lama-kelamaan, karena rasa egoku untuk tinggal di rumah aja semakin kuat, akhirnya aku give up dan balik ke rumah sampe lulus. Tapi, aku baru nyesel pas udah lulus. Harusnya aku bersyukur yang saat itu udah tinggal di asrama tanpa ponsel pintar. Bodohnya aku, malah ngikutin ego sendiri :(
Nah, ada lagi cerita lainnya...
Suatu hari, aku nonton sebuah video di YouTube tentang pengalaman seseorang yang nyoba buat hidup bener-bener tanpa medsos a.k.a hidup kayak jaman ortu kita dan sebelum-sebelumnya. Ternyata, dia bilang banyak banget manfaatnya. Tapi, ada juga resiko yang harus diterima. Beberapa manfaatnya: hidupnya jauh lebih teratur dan nyaman, juga rasa sosialnya meningkat secara drastis. Seinget aku sih, dia pergi ke sebuah kampung gitu dan ninggalin semua gadget yang dia punya, termasuk juga laptopnya. Terus, selama waktu yang udah dia tentuin, dia bantuin neneknya kerja gitu, ya? Ya, intinya dia ngerasa hidupnya jauh lebih menyenangkan deh! Tapi, resikonya sih, pastinya dia mutusin tali silaturahminya ke keluarga dan temen-temennya, jelas. Terus juga, ke-gaptek-an pasti melekat.
Ada satu lagi, tapi ini bukan cerita. Ini lebih fokus ke fakta. Mungkin ini agak berhubungan dengan topik yang lagi kita bahas ini. Aku yakin beberapa dari kalian udah ada yang tahu kalau beberapa bulan ke belakang ada penelitian tentang bahaya menggunakan Wi-fi yang dilakukan oleh salah satu tim anak SMA (lupa lagi SMA yg mana). Jadi, mereka pake tanaman kacang ercis yang ditanam di atas kapas gitu (kalo nggak salah, ya) terus mereka taro dan didiemin di samping alat Wi-Finya. Hasilnya, tanaman itu mati total. Artinya apa dong? Hubungannya apa lagi? Kalo kalian terus-terusan main medsos, apalagi sampe yang ponsel kalian disimpan di sebelah kalian pas tidur dalam keadaan masih nyala, tubuh kalian berangsur-angsur mulai berkurang fungsinya, dalam artian, tubuh kalian akan dirusak perlahan-lahan sehingga menyebabkan munculnya berbagai penyakit di tubuh kalian. Hubungannya, ya jelas, Wi-Fi itu kan masalahnya alat penghubung biar bisa tetep main medsos. Alat itu juga sangat berperan penting dalam dunia medsos. Serem kan kalo kalian sampe dirawat gara-gara medsos doang?
Aku ngaku aja sih, sampe saat ini, 2 hari setelah beberapa akun medsos aku ditutup permanen, aku masih ngerasa bener-bener kehilangan. Wajar aja sih, belum hitungan bulanan juga, masih dalam fase yang belum bener-bener mantap ngelupain dunia medsos. Aku pribadi sih nggak yang bener-bener nutup permanen semua akun medsosku. YouTube dan blog ini kan sebenernya masih bagian dari medsos juga. Aku pun masih butuh buat media belajar. Aplikasi chatting juga belum aku tutup permanen karena aku masih butuh banget informasi dari situ. Aku nggak bener-bener nutup semua akun medsos yang aku punya,kok, cuman beberapanya aja yang emang dirasa nggak begitu penting dan selalu mengganggu hari-hariku.
Semoga kali ini perjuangan aku ini bener-bener istiqomah ya...
Doakan aku biar lancar segalanya, kawan-kawan!
Yuppp manfaatkan medsos secukupnya dan sebaikbya sajaaa
ReplyDelete